Iswaya.my.id - Enak ya hari ini, kita hidup di zaman keterhubungan yang sangat mudah, informasi diterima secepat jari mengetik dan scrol-scrol sosial media. Walaupun ada secara tidak langsung ada skeptis yang cukup besar antara individu, kelompok, dan komunitas masyarakat sekalipun. Artinya adalah trust, informasi yang faktual, objektif justru semakin sulit untuk benar-benar dipercaya. Ada kegamangan terhadap ragam informasi yang diterima, dalam konteks apapun.
Pergulatan
dan percakapan, diskusi dan rangkaian seminar, bahkan jagongan sekalipun
menjadi ruang yang sangat penuh curiga.
Semua itu terjadi tanpa henti, ruang interaksi terbuka lebar, dan
hubungan tampak terus terjalin. Namun, di balik itu semua, ada perubahan yang
sering luput dari perhatian; kepercayaan sosial tidak lagi menjadi fondasi,
melainkan menjadi sesuatu yang dipertanyakan sejak awal.
Sejatinya,
kepercayaan itu menjadi pilar penting dalam aspek apapun, utamanya dalam
kehidupan. Ia hadir sebelum relasi dimulai. Orang tidak perlu memikirkan apakah
lawan bicaranya aman atau tidak, apakah perbedaan akan berujung konflik atau
tidak. Ada semacam “jaminan sosial” yang membuat interaksi terasa ringan. Kini,
pola itu berbalik. Kepercayaan tidak lagi diberikan, tapi ditahan. Relasi tidak
dimulai dari keterbukaan, melainkan dari kewaspadaan.
![]() |
| Ilustrasi Truth (sumber: freepik) |
Kalau kita kenal istilah kearifannya adalah sepada-pada, siapapaun yang berbicara selagi ia menawarkan kebaikan bersama dalam konteks gagasan dan praktisnya, maka ada penghargaan berupa apresiasi, diskusi yang berlanjut dan sampai pada tahap kongkret, praktis dan berdampak. Oleh sebab itu, kata Sayyidina Ali sebagai bagian dari metodologi persanadan hadits, pernah berkata bahwa “Undur ma qala, wa la tandur man qala,” bahwa lihatlah apa yang dikatakan, dan bukan pada siapa yang mengatakan.
Tradisi
manhajiah seperti itu menjadi pola komunikasi sosial sejak dulu, bahkan
berdampak pada ruang sosial antar suku, antar kelompok komunitas dan antar
individu. Pasalnya di sekitar kita kerap muncul istilah “Bathok bolu isi
madu” bahwa siapapun bisa berpikir dan turut urun rembuk atas berbagai
solusi untuk masalah sosial, bukan terhenti pada siapa atau gelar apa yang
melatar belakanginya, pada intinya adalah isinya, bukan bungkusnya, dan hari
ini kerap terbalik.
Perubahan ini
bukan sekadar perubahan sikap, tapi perubahan struktur. Kita sedang bergeser
dari masyarakat yang berbasis trust menuju masyarakat yang berbasis
kontrol dan verifikasi. Mbok ya sekecil apapun langkahnya dan ucapannya
perlu divalidasi dan dikontrol, kan eman. Segala hal perlu dikonfirmasi, diuji,
bahkan dicurigai.
Dalam kondisi
seperti ini, orang tidak lagi hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai
versi yang sudah disesuaikan dengan situasi. Ada proses penyaringan yang aman
dikatakan, apa yang sebaiknya disimpan. Jadi, kalau konteksnya demokrasi tentu
ada penekanan kalimat “tunggu dulu”, hak berpendapat dan berekspresi itu hanya
pemanis saja, artinya kebanyakan telinga sudah tertutup dan anti kritik.
Jangankan mulat sarira, sadar untuk mengevaluasi diri saja enggan.
Dari sinilah
ruang untuk berbeda mulai menyempit. Perbedaan itu sejatinya anugerah, tapi
tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang wajar, melainkan sebagai potensi
gangguan. Bukan karena perbedaan itu sendiri yang berubah, melainkan karena
daya tampung sosial terhadap perbedaan melemah. Ketika kepercayaan turun,
kapasitas untuk menerima perbedaan ikut menurun. Akibatnya, perbedaan tidak
dikelola, tapi dihindari atau dilawan.
Kita bisa
melihat gejalanya dalam banyak hal kecil, orang lebih memilih diam daripada
berpendapat, diskusi cepat berubah menjadi ketegangan, dan hubungan sosial
terasa sensitif. Bahkan dalam lingkup yang dekat sekalipun seperti keluarga,
teman, dan komunitas, orang mulai berhati-hati. Ini bukan karena mereka tidak
punya pandangan, tapi karena mereka tidak yakin ruang itu cukup aman untuk
menampung dan mendengarkan pendapatnya.
Di titik ini,
masyarakat mulai membentuk apa yang bisa disebut sebagai keseragaman semu,
kelompok yang sama (harus sama) dan komunitas yang terpaut pada satu orang yang
paling berpengaruh. Dari luar terlihat rukun, tidak banyak konflik terbuka.
Tapi sebenarnya, yang terjadi adalah penahanan. Entah karena budaya sungkanan,
tidak enakan, atau karena kekhawatiran.
Perbedaan
tetap ada, hanya tidak muncul ke permukaan. Orang menyesuaikan diri agar tetap
diterima, bukan karena sepakat, tapi karena tidak ingin tersisih dan
berselisih. Ini yang membuat kehidupan sosial tampak stabil, tapi sebenarnya
rapuh.
Jika ditarik
lebih dalam lagi, akar dari semua ini bukan sekadar menurunnya kepercayaan,
melainkan “hilangnya rasa aman eksistensial dalam relasi sosial”. Artinya,
seseorang tidak lagi merasa aman untuk hadir apa adanya di hadapan orang lain.
Ketika rasa
aman ini hilang, relasi berubah menjadi ruang yang harus dikelola, bukan
dialami. Orang mulai memainkan peran, menjaga citra, dan menyesuaikan ekspresi.
Memang Ajining raga saka busana, tapi kan ada antitesis bahwa ajining
diri saka lati, kalau boleh ditambah maka ajining diri saka laku,
bahwa memang tampilan itu menandakan siapa dan bagaimana individu itu, tapi
kalau antara apa yang diucap dan dilakukan tidak sejalan maka akan menjadi
bumerang pada waktunya nanti.
Dalam kondisi
seperti ini, “topeng sosial” menjadi sesuatu yang wajar. Bukan dalam arti
negatif semata, tetapi sebagai mekanisme bertahan. Orang tidak sepenuhnya jujur
bukan karena ingin menipu, tapi karena ingin aman. Namun, ketika semua orang
melakukan hal yang sama, maka relasi sosial kehilangan kedalaman. Tidak ada
perjumpaan yang benar-benar utuh, hanya pertemuan antar-peran. Keburukan kecil
yang dianggap wajar dan dilakukan secara bersamaan, akan menjadi keburukan
besar yang fatal, walaupun dianggap lumrah.
Dampaknya
kemudian terasa pada bentuk relasi itu sendiri. Hubungan menjadi lebih
fungsional berdasarkan kebutuhan, bukan keterikatan. Kedekatan digantikan oleh
koneksi. Komunitas tetap ada, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa memiliki.
Orang bisa berada dalam satu ruang yang sama, tetapi tidak merasa benar-benar
bersama.
Di sinilah
kita melihat satu rangkaian yang utuh, ketika kepercayaan melemah, ruang aman
menyempit; ketika ruang aman menyempit, relasi sosial menyesuaikan diri menjadi
lebih tertutup dan dangkal. Ini bukan tiga masalah yang terpisah, melainkan
satu alur perubahan yang saling berkaitan. Ada das sein yang terbentuk dari das
solen sebagai gagasan utamanya, ada interpretasi, tafsir, bahkan keyakinan buta
tentang kebenaran, kemudian dilakukan dan bahkan dibantah berjamaah.
Masalahnya
menjadi lebih mendasar ketika kita menyadari bahwa kepercayaan bukan sekadar
elemen tambahan dalam masyarakat, tetapi fondasi itu sendiri. Tanpa
kepercayaan, tidak ada ruang aman. Tanpa ruang aman, tidak ada relasi yang
sehat. Dan tanpa relasi yang sehat, masyarakat hanya menjadi kumpulan individu
yang hidup berdampingan tanpa benar-benar terhubung.
Karena itu,
persoalan utama yang kita hadapi hari ini bukan sekadar konflik sosial atau
perbedaan pendapat. Lebih dalam dari itu, kita sedang menghadapi “krisis
kehadiran otentik dalam ruang sosial”. Orang hadir, tapi tidak sepenuhnya
menjadi dirinya. Mereka berbicara, tapi tidak sepenuhnya jujur. Mereka
berelasi, tapi tidak sepenuhnya terhubung.
Jika ini yang
terjadi, maka arah dasar yang perlu dipikirkan bukan sekadar bagaimana meredam
konflik, tetapi bagaimana mengembalikan rasa aman sebagai fondasi relasi
sosial.
Bukan dengan
memaksa kesamaan, melainkan dengan membuka kembali kemungkinan untuk berbeda
tanpa rasa takut. Bukan dengan mempercepat komunikasi, tetapi dengan
memperdalam kualitas perjumpaan.
Ini mungkin
terdengar sederhana, tetapi justru di situlah suluk sosial kita. Karena
kepercayaan tidak bisa diproduksi secara instan, dan rasa aman tidak bisa
dipaksakan dari luar. Ia tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil yang berulang,
pendekatan empiris yang pelan namun pasti, didengar tanpa dihakimi, berbeda
tanpa diserang, dan hadir tanpa harus menyembunyikan diri.
Di ruang yang
sedang gelap gulita ini, telinga-telinga ditutup dan mulut-mulut membisu, kita
perlu melihat bahwa yang sedang retak bukan hanya hubungan antarindividu,
tetapi jaringan yang mengikat masyarakat itu sendiri, kita perlu grayah-grayah
dan sinahu terus.
Retakan ini tidak selalu terlihat, tidak selalu bersuara, tetapi dampaknya nyata. Dan jika tidak disadari, ia akan terus melebar membuat kita semakin dekat secara jarak, tapi semakin jauh secara makna.[]

Komentar
Posting Komentar