Langsung ke konten utama

Postingan

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Postingan terbaru

Budaya Manusia, Budaya Teknokrasi

Iswaya.my.id -   Mula-mula kita perlu mendudukkan dan menyamakan persepsi tentang kebaikan. karena ada yang berbuat baik tanpa merasa perlu memberi tahu siapa-siapa, pun ada juga yang ditampakkan dengan berbagai motif yang mendasarinya. Artinya, kebaikan adalah nilai yang perlu dilakukan dan diterima oleh siapapun.  Satu contoh kebaikan misalnya adalah saat kita datang ke rumah tetangga yang sedang berduka, duduk sebentar di ruang tamu yang masih dipenuhi suara orang mengaji, membantu mengangkat kursi, menuangkan air untuk tamu, lalu pulang ketika pekerjaan kecilnya selesai.  Tidak ada foto. Tidak ada unggahan. Tidak ada keterangan panjang tentang betapa pedulinya ia kepada orang lain.Kebaikan selesai ketika kewajiban batin selesai. Barangkali kita sedang kehilangan sesuatu yang sederhana dari cara hidup semacam itu. Bukan kebaikannya. Kita masih memilikinya. Bahkan mungkin dalam jumlah yang lebih banyak.  Battista Mondin Kita masih melihat orang bersedekah, mem...

NU di Persimpangan Tradisi dan Hasrat Zaman

Iswaya.my,id - Ada ungkapan luhur yang turut membangun budaya dan gerak sosial kita, bahwa “ yen wis ilang wirange, tinggal rame tanpa wibawa ”. Ketika kewibawaan memudar, yang tersisa hanyalah keramaian. Agaknya ungkapan ini relevan untuk membaca sebagian kegelisahan warga Nahdlatul Ulama (NU) hari ini. Bukan karena NU kehilangan massa, tidak. NU tetap organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jaringan pesantren, kiai, santri, dan jamaah yang mengakar dan menguktul secara organik sampai ke pelosok desa. Tetapi di tengah kebesaran itu, muncul pertanyaan yang semakin sering berkelindan di warung-warung kopi, grup WhatsApp, forum intelektual, bahkan di serambi pesantren, “mengapa kiai hari ini semakin mudah diperdebatkan, bahkan tidak sedikit yang kehilangan daya hormat di mata sebagian jamaahnya?”   Pertanyaan itu sesungguhnya bukan soal sopan santun semata. Ia menyentuh perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan hubungan antara otoritas moral dan kekuasaan sosial. Ini buk...

Seni Berkeluarga, Relasi Kausalitas Tanpa Batas

Iswaya.my.id - Ada masa ketika keluarga tidak punya pilihan selain menjadi peluang bertahan hidup. Bukan benteng yang puitis seperti dalam cerita-cerita, tetapi benteng yang benar-benar menentukan: hidup atau tidak.  Di titik paling awal itu, keluarga adalah cara manusia memastikan dirinya tidak hilang dari dunia. Ia bekerja sebagai sistem yang menjaga keteraturan, seperti yang dibayangkan oleh Émile Durkheim, bahwa keluarga adalag sebuah unit kecil yang memproduksi norma, kebiasaan, dan rasa saling terikat. Kesadarannya sederhana, bahkan nyaris tanpa negosiasi panjang, ia dibayangkan sebuah kebersamaan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Walaupun realitasnya sinahu berkeluarga itu penuh dinamika (keruwetan). Namun itulah seninya. Manusia tidak hanya bertahan hidup; ia juga memberi makna. Ketika struktur sosial mengeras, bernuansa kerajaan, kelas, dan kepemilikan, keluarga pelan-pelan berubah wajah. Ia menjadi tempat di mana nama dijaga simbolisme eksistensi, garis keturunan dirawat, ...

Grayah-Grayah di Era Post-Truth

Iswaya.my.id -   Enak ya hari ini , kita hidup di zaman keterhubungan yang sangat mudah, informasi diterima secepat jari mengetik dan scrol-scrol sosial media. Walaupun  ada secara tidak langsung ada skeptis yang cukup besar antara individu, kelompok, dan komunitas masyarakat sekalipun. Artinya adalah trust , informasi yang faktual, objektif justru semakin sulit untuk benar-benar dipercaya. Ada kegamangan terhadap ragam informasi yang diterima, dalam konteks apapun. Pergulatan dan percakapan, diskusi dan rangkaian seminar, bahkan jagongan sekalipun menjadi ruang yang sangat penuh curiga.  Semua itu terjadi tanpa henti, ruang interaksi terbuka lebar, dan hubungan tampak terus terjalin. Namun, di balik itu semua, ada perubahan yang sering luput dari perhatian; kepercayaan sosial tidak lagi menjadi fondasi, melainkan menjadi sesuatu yang dipertanyakan sejak awal. Sejatinya, kepercayaan itu menjadi pilar penting dalam aspek apapun, utamanya dalam kehidupan. Ia hadir sebel...

Dunia Pencitraan Ladulmun 'Adim

iswaya.my.id - Ada ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita, bahwa manusia semakin ramai berbicara tentang nilai, tetapi semakin sepi dalam mempraktikkannya. Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur dengan manfaat pribadi. Bahkan niat baik pun sering disaring terlebih dahulu oleh pertanyaan sederhana, apa untungnya bagi saya? Dari sinilah pola pikir materialistis tumbuh dengan sangat halus tidak selalu kasar dan tampak serakah, tetapi menyelinap dalam cara kita memaknai agama, pendidikan, relasi sosial, bahkan politik. Materialisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk harta yang berlimpah. Ia sering muncul dalam bentuk yang lebih halus: keinginan untuk selalu berada di zona nyaman, keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai kepentingan diri, serta kecenderungan menilai sesuatu hanya dari manfaat yang langsung terasa. Ketika logika ini menguasai cara berpikir, manusia mulai lupa bahwa hidup sejak awal tidak pernah dibangun sendirian. Ia selalu lahi...