Iswaya.my.id - Ada masa ketika keluarga tidak punya pilihan selain menjadi peluang bertahan hidup. Bukan benteng yang puitis seperti dalam cerita-cerita, tetapi benteng yang benar-benar menentukan: hidup atau tidak. Di titik paling awal itu, keluarga adalah cara manusia memastikan dirinya tidak hilang dari dunia. Ia bekerja sebagai sistem yang menjaga keteraturan, seperti yang dibayangkan oleh Émile Durkheim, bahwa keluarga adalag sebuah unit kecil yang memproduksi norma, kebiasaan, dan rasa saling terikat. Kesadarannya sederhana, bahkan nyaris tanpa negosiasi panjang, ia dibayangkan sebuah kebersamaan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Walaupun realitasnya sinahu berkeluarga itu penuh dinamika (keruwetan). Namun itulah seninya. Manusia tidak hanya bertahan hidup; ia juga memberi makna. Ketika struktur sosial mengeras, bernuansa kerajaan, kelas, dan kepemilikan, keluarga pelan-pelan berubah wajah. Ia menjadi tempat di mana nama dijaga simbolisme eksistensi, garis keturunan dirawat, ...