Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Integrasi Spiritualitas Jawa-Islam dan Perlawanan Diponegoro

Ilustrasi penangkapan Pangeran Diponegoro pada akhir perang Jawa tahun 1830 yang dilukis oleh Raden Shaleh. Foto: Ist/Net Iswaya.my.id - Pangeran Diponegoro merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah nasional Indonesia, yang keberaniannya dalam memimpin Perang Jawa (1825–1830) melawan kolonialisme Belanda telah mengukir jejak mendalam dalam kesadaran kolektif bangsa. Namun, keistimewaan Diponegoro tidak berhenti pada perannya sebagai tokoh militer. Ia adalah pemimpin spiritual, intelektual, sekaligus simbol moral yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, budaya Jawa, dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam dirinya, terdapat perpaduan antara idealisme religius dan realisme politik yang lahir dari pergulatan spiritual dan sosial yang kompleks. Karya Babad yang ditulis oleh Diponegoro dalam pengasingannya (1831–1833)  merupakan sumber penting untuk memahami kepribadian dan pandangan dunianya. Babad ini tidak hanya mencatat kronologi peristiwa, tetapi juga me...

200 Tahun Perang Diponegoro; Refleksi Sejarah dan Konservasi Spirit

Iswaya.my.id - Tahun ini menjadi momentum peringatan sejarah patriotisme Pangeran Diponegoro dalam perang jawa yang berlangsung pada 1825-1830. Pangeran Diponegoro, sang pahlawan nasional yang namanya terukir abadi dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda menyisakan berbagai warisan yang perlu - bahkan wajib untuk dikaji-reflektifkan. Dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah itu, perlu kiranya kita membaca kembali spirit patriotisme dalam bentuk gelaran Haul Pangeran Diponegoro dan Laskar Diponegoro. Di Kalipare haul ini akan memasuki tahun yang ke-dua kalinya, sebuah perayaan yang tidak hanya berisi doa dan penghormatan, tetapi juga refleksi atas nilai-nilai perjuangan yang diwariskan olehnya. Tanggal 18 Oktober 2025 menjadi momentum reflektif bagi masyarakat Kalipare, Malang, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Di samping peringatan dalam bentuk haul, agaknya membaca patriotisme Pangeran Diponegoro juga perlu diwujudkan dalam bentuk pelestarian aksara jawa. Di mana ...

Jalan Sunyi di Tengah Penuh Sesak

Iswaya.my.id - Kalau kita membaca buku Sufism An Introduction karya Farida Khanam terbitan Goodword (2007), kita akan menemukan cerita panjang tentang bagaimana para Sufi dulu menempuh jalan sunyi. Seperti Hasan al-Basri yang menangis takut pada api neraka, Rabi’ah al-Adawiyah yang berdoa agar cintanya kepada Allah tidak dikotori oleh harapan surga, atau Abdul Qadir al-Jilani yang mengajarkan murid-muridnya untuk tidak bergantung pada kekuatan selain Allah. Semua kisah itu berangkat dari konteks sejarah yang jauh dari kita. Mereka hidup di gurun, di istana, di jalan-jalan kota Baghdad atau Basra. Mereka menghadapi kekuasaan Umayyah, pertikaian politik, dan intrik para ulama istana. Hari ini, kita hidup di dunia yang lain; dunia algoritma, dunia pencitraan, dunia yang penuh suara bising. Tapi justru di situlah tasawuf masih relevan. Tasawuf adalah seni menemukan Allah di dalam hati, apa pun situasi zamannya. Hari ini, tidak banyak orang yang bisa memilih hidup asketis seperti Ibrahim i...