Langsung ke konten utama

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Manusia dan Keinginan yang Tanpa Batas

Multaqo - Bahwa manusia itu tidak pernah merasa cukup, agaknya ini benar dan berlaku untuk siapapun. Setiap orang memiliki keinginan dan target pencapaian. Namun apakah memiliki kadar kecukupan? Agaknya hal ini perlu kita kaji ulang.

Perjalanan dalam kehidupan itu pasti memiliki lika-liku yang tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga target pencapaian dalam kehidupannya. 

Ada yang menginginkan menjadi presiden, ada yang menjadi DPR, pegawai kantoran, guru, pengusaha, petani dan lain sebagainya. Dalam setiap status sosial itu mereka memiliki capaian dan target dalam prosesnya. 

Target dan capaian itu sendiri menjadi legitimasi bahwa manusia itu terus bergerak. Survive adalah bentuk dari perlawanan manusia terhadap kemalasannya. 

Multaqo.com


Oleh karena itu wajar kalau setiap manusia memiliki capaian dan target yang diinginkan. Karena dengan begitu, manusia mencapai posisi survive dalam setiap proses kehidupannya. 

Hal ini disampaikan dalam sebuah hadist Nabi yang berbunyi, utlubul ilma walau bishin. Bahwa untuk mencari pengetahuan, survive, dan terus bergerak itu tak terbatas, kalau bisa sampai ke negeri Cina. 

Artinya, tidak ada batasan seseorang itu bergerak sampai manapun dan kapanpun. Begitu juga merasa cukup dalam dirinya. Maka wajar ketika manusia memiliki rasa selalu kurang dan kurang. Untuk merasa cukup ia harus benar-benar menarik ego dalam dirinya. 

Sedangkan menarik ego adalah proses yang perlu belajar dan usaha yang memerlukan nafas panjang. Baik kesadaran intelektualnya ataupun spiritualnya. Baik kesadaran yang bersifat pengetahuan ataupun kesadaran batin untuk merasa cukup dalam konteks apapun.

Tuhan tidak suka dengan hamba-nya yang berlebihan, karena itu bagian dari egosentris yang memiliki kecenderungan destruktif. Artinya kecenderungan yang terkadang justru merugikan dirinya sendiri pun orang lain. 

Oleh karena itu, perihal keinginan dan Target pun seharusnya tidak melewati batas. Karena jika dikembalikan kepada konsep pasrah, maka yang terpenting adalah usaha dan menyerahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Oleh sebab itu berlajan mengikuti arus itu kadang memiliki potensi penyerahan diri kepada Tuhan, walaupun juga ada kalanya harus melawan arus.[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

5 Doa Minta Jodoh Yang Terbaik Sesuai Sunnah

Doa Minta Jodoh.  Doa merupakan salah satu bentuk ketidak mampuan seorang hamba untuk melakukan sebuah perkara, tanpa adanya kuasa dan bantuan dari Allah Swt. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk  berdoa meminta jodoh  agar diberikan jodoh oleh Allah. Ada beberapa doa meminta jodoh yang ada dalam al-Qur’an al-Karim, diantaranya adalah surah al-Furqan ayat 74  : Artinya : Waha Tuhan kami,anugerahkanlah pada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati. Juga dalam surah al-Qashas ayat 24 : رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa Minta Jodoh Sebelum Tidur merupakan salah satu cara agar kita selalu istiqomah  dalam memanjatkan doa kepada Allah. Karena tidur merupakan salh satu kegiatan yang rutin kita lakukan setiap hari, ,jadi otomatis kita akan setiap hari juga memanjatkan doa tersebut sebelum tidur. Baca Juga:...