iswaya.my.id - Ada ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita, bahwa manusia semakin ramai berbicara tentang nilai, tetapi semakin sepi dalam mempraktikkannya. Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur dengan manfaat pribadi. Bahkan niat baik pun sering disaring terlebih dahulu oleh pertanyaan sederhana, apa untungnya bagi saya? Dari sinilah pola pikir materialistis tumbuh dengan sangat halus tidak selalu kasar dan tampak serakah, tetapi menyelinap dalam cara kita memaknai agama, pendidikan, relasi sosial, bahkan politik.
Materialisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk harta yang berlimpah. Ia sering muncul dalam bentuk yang lebih halus: keinginan untuk selalu berada di zona nyaman, keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai kepentingan diri, serta kecenderungan menilai sesuatu hanya dari manfaat yang langsung terasa. Ketika logika ini menguasai cara berpikir, manusia mulai lupa bahwa hidup sejak awal tidak pernah dibangun sendirian. Ia selalu lahir dalam ruang lokal dan komunal, dalam lingkaran hubungan yang membuat hidup memiliki makna.
Di ruang-ruang kecil itulah manusia belajar hidup. Di warung kampung, di serambi rumah, di langgar kecil, atau di pertemuan sederhana yang mungkin hanya berisi beberapa orang yang saling menyapa. Hidup dalam tradisi komunal selalu bergerak melingkar, saling menyambung silaturrahmi, dan menemukan kebahagiaan dari pertemuan yang sederhana. Tidak ada yang spektakuler, tetapi ada kehangatan yang membuat manusia merasa cukup.
Di sana pula manusia belajar satu prinsip penting; hidup harus sesuai kapasitas. Tidak semua orang harus menjadi pusat perhatian. Tidak semua orang harus memegang kendali besar. Setiap orang memiliki ruangnya masing-masing, dan ruang sekecil apa pun tetap memiliki makna selama diisi dengan niat yang tulus.
Dalam agama, pengalaman ini sebenarnya sangat nyata. Bahagia dalam ruang sekecil apa pun adalah bagian dari spiritualitas yang sering kita lupakan. Sebuah ruang sosial kecil, ritual sederhana, atau seremonial yang mungkin tidak megah sering kali justru menjadi tempat manusia "nggatukne ati" menyambungkan hati dengan Tuhan sekaligus dengan sesama manusia. Di situlah agama bekerja secara diam-diam; bukan melalui kemegahan simbol, tetapi melalui kedalaman rasa.
Sayangnya, di tengah budaya materialistik, agama sering mengalami penyempitan makna. Kita melihat orang begitu bersemangat menampilkan identitas religius, tetapi sering lupa bahwa nilai agama jauh lebih luas daripada simbol-simbolnya. Agama direduksi menjadi seremonial baju dan identitas, seolah kesalehan cukup dibuktikan dengan tampilan luar.
Padahal inti agama tidak pernah berada pada simbol, melainkan pada tindakan. Ibadah pada dasarnya adalah dedikasi dan kontribusi. Ia bukan sekadar ritual yang selesai dalam waktu tertentu, tetapi energi yang seharusnya mendorong manusia untuk memberi manfaat kepada orang lain. Ketika ibadah dipahami seperti ini, agama tidak lagi menjadi ruang eksklusif yang hanya berbicara tentang keselamatan pribadi, melainkan menjadi kekuatan yang menghidupkan kehidupan sosial.
Di titik ini kita menemukan sebuah prinsip yang sering diabaikan, manusia yang sudah selesai dengan dirinya—yang tidak lagi sibuk dengan ego dan kepentingan kecil—akan memiliki kekuatan untuk memenangkan apa pun dalam hidupnya. Bukan karena ia memiliki segalanya, tetapi karena ia tidak lagi diperbudak oleh keinginan untuk memiliki.
Masalahnya, perjalanan menuju keadaan itu tidak pernah mudah. Dunia modern sangat pandai membuat manusia sibuk dengan gagasan besar, tetapi enggan menjalankan tindakan kecil. Banyak orang memiliki ide yang brilian tentang perubahan sosial, pendidikan yang lebih baik, atau masyarakat yang lebih adil. Namun realitasnya sederhana; yang mahal itu bukan ide, tetapi eksekusi dan aktualisasi.
Ide selalu murah karena ia bisa lahir dari siapa saja. Tetapi untuk mewujudkannya dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal, akar yang kuat dan tekad yang kokoh. Tanpa dua hal itu, gagasan hanya akan menjadi percakapan yang berputar di meja diskusi tanpa pernah benar-benar menyentuh kehidupan nyata.
Dalam pendidikan, persoalan ini terasa sangat nyata. Sistem pendidikan sering kali hanya berfokus pada pencapaian formal—nilai, ijazah, dan prestasi yang bisa diukur. Padahal esensi pendidikan seharusnya adalah “urip pikirane”, menghidupkan pikiran manusia agar mampu memahami dunia dengan lebih dalam.
Pikiran yang hidup tidak hanya mengejar prestasi pribadi. Ia juga mampu melihat kehidupan sebagai jaringan hubungan yang luas. Karena itu, dalam kehidupan sosial kita sering membutuhkan teman yang berani “ngitik-ngitik”—menyenggol atau menggoda—agar seseorang tidak terlalu nyaman duduk di zona nyamannya. Kadang dorongan kecil seperti itulah yang membuat seseorang kembali bergerak.
Zona nyaman memang sering tampak damai, tetapi ia juga bisa menjadi tempat paling halus bagi manusia untuk berhenti bertumbuh. Ketika seseorang terlalu lama berada di sana, ia mulai merasa cukup dengan dirinya sendiri. Padahal kehidupan sosial membutuhkan manusia yang terus bergerak, terus mencari cara agar manfaat tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Dalam tradisi keagamaan, fondasi ini sebenarnya sudah lama ditegaskan. Pokok pondasi agama adalah kumpul-kumpul, keselarasan, dan nikmatnya kebersamaan. Agama tidak pernah dimaksudkan untuk memisahkan manusia, tetapi justru untuk mempertemukannya dalam ruang kebersamaan.
Karena itu para ulama sering mengingatkan pentingnya berpegang pada nilai yang sama, sebagaimana ungkapan “wal ahduh bih, wal istiqamatuhu bih”, dan perintah “wai'tasimu bihablillah”—berpegang teguh pada tali Tuhan. Dalam pesan yang sering disampaikan oleh Sayid Abdullah, kekuatan manusia tidak terletak pada dirinya sendiri, tetapi pada kesediaannya untuk terikat dengan nilai yang lebih besar dari dirinya.
Di sisi lain, ada prinsip yang sangat penting dalam etika Islam: “al-umru bimaqashidiha”—segala sesuatu bergantung pada tujuannya. Setiap tindakan memiliki latifah, memiliki kehalusan niat, dan setiap manusia memiliki qalbun masing-masing. Karena itu dalam perjalanan hidup selalu ada mutiara yang bisa ditemukan, selama manusia tidak kehilangan niatnya.
Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah satu hal sederhana: mengAllahkan Allah. Menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi hidup, bukan sekadar sebagai simbol yang dipajang dalam identitas sosial.
Puasa menjadi contoh yang sangat kuat dari prinsip ini. Ketika manusia dipaksa menahan lapar, sebenarnya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar. Puasa adalah cara Allah memaksa manusia merasakan lapar, agar kita mengerti bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan.
Dengan merasakan sendiri rasa lapar itu, manusia diingatkan bahwa di luar dirinya ada banyak saudara yang setiap hari hidup dengan kesulitan yang sama. Dari situlah empati lahir, dan dari empati itulah agama menemukan maknanya yang paling nyata.
Karena pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang memiliki sesuatu. Hidup adalah tentang bagaimana manusia bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Sebagaimana pesan sederhana yang sering disampaikan oleh Mas Dhofir;
Kerjakan doamu dan doakan kerjamu.
Doa tanpa kerja hanya akan menjadi harapan kosong, sementara kerja tanpa doa mudah berubah menjadi kesombongan. Ketika keduanya berjalan bersama, manusia tidak lagi terjebak dalam materialisme yang sempit. Ia akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang bisa ia berikan kepada kehidupan di sekitarnya.[]
Tulisan di atas disarikan dari perjumpaan dalam acara buka bersama dan haul Yai Agus Sunyoto (7 maret, 2026) oleh komunitas budaya mukti laku, pancasuman, dan para pembina; Gus Irfan Mahmud, Yai Eko, Gus Busyro, Gus Irul, dll.

Komentar
Posting Komentar