Langsung ke konten utama

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Memaknai Cinta, Intensitas dan Keimanan Dalam Perilaku Sosial

Multaqo - Salah satu ayat di dalam al-Quran berbunyi “Dan orang-orang yang beriman, adalah mereka yang intensitas cintanya kepada Allah tidak terhenti.” (Qs: Al-Baqarah, 165)

Ketika kita tarik beberapa poin dari ayat tersebut maka, ada kepercayaan (keimanan), cinta dan intensitas. Sebagai manusia, yang dibutuhkan dalam setiap kehidupannya adalah keberlangsungan dan intensitasnya. 

Multaqo.com


Setiap pekerjaan pasti memiliki suka dukanya, begitu juga dalam konteks meraih cintaNya. Ibadah adalah bentuk utuh pengabdian kepada Tuhan. Sehingga, jika pekerjaan adalah bentuk ibadah kepada Tuhan dengan wujud tanggung jawab kepada pekerjaan dan keluarga, maka kita mendapatkan gelar pecinta. 

Mengapa? Karena dengan mengabdikan diri kepada Tuhan maka menjadi bentuk kecintaan kita kepada Tuhan, bentuknya bisa rasa syukur, sabar, ikhlas dan pasrah. 

Oleh sebab itu, mencintai itu adalah kewajiban. Tinggal bentuk cintanya itulah yang perlu dipikirkan matang-matang. 

Seorang Rumi, pernah merasa kehilangan kekasih, sampai-sampai ia mengurung dirinya di dalam kamar berbulan-bulan. Apakah ini kemudian menjadi pengingkaran terhadap Tuhan? Karena yang ia cintai adalah makhluk Tuhan.

Tentu tidak sekonyol itu kita menuduh Rumi. Baginya mencintai kekasih adalah mencintai sumber cintanya (Tuhan). 

Sehingga ketika anda mencintai siapapun atau apapun, entah itu keluarga atau kekasih anda, atau pekerjaan anda, maka yang utama adalah bentuk cintanya itu adalah nilai dari mencintai Tuhan.

Tanggung jawab, istiqamah, sabar, ikhlas dan memiliki dedikasi tinggi adalah bentuk cinta yang hakikatnya adalah kepada Tuhan. 

Anda memiliki hewan peliharaan misalanya, anda jaga, anda rawat dan tidak sama sekali anda telantarkan, maka itu menjadi bentuk cinta anda kepada Tuhan, karena menjaga makhluk yang juga diciptakan oleh Tuhan. 

Intinya adalah tanggung jawab atas apa yang kita emban sekarang. Karena ketika kita beribadah kepada Tuhan, tetapi masih menyakiti keluarga, tetangga dan orang lain, maka akan gugur nilai pengabdian kita kepada Tuhan. 

Jika kembali kepada ayat di atas, maka yang terpenting adalah intensitasnya, keberlangsungannya, kesadarannya, kepekaannya, dan mawas dirinya. 

Karena dengan menjaga cinta kita kepada Tuhan dan sesama makhlukNya adalah bentuk intensitas cinta kita yang seutuhnya. Semoga kita selalu dijaga cintanya oleh Tuhan.  


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

5 Doa Minta Jodoh Yang Terbaik Sesuai Sunnah

Doa Minta Jodoh.  Doa merupakan salah satu bentuk ketidak mampuan seorang hamba untuk melakukan sebuah perkara, tanpa adanya kuasa dan bantuan dari Allah Swt. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk  berdoa meminta jodoh  agar diberikan jodoh oleh Allah. Ada beberapa doa meminta jodoh yang ada dalam al-Qur’an al-Karim, diantaranya adalah surah al-Furqan ayat 74  : Artinya : Waha Tuhan kami,anugerahkanlah pada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati. Juga dalam surah al-Qashas ayat 24 : رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa Minta Jodoh Sebelum Tidur merupakan salah satu cara agar kita selalu istiqomah  dalam memanjatkan doa kepada Allah. Karena tidur merupakan salh satu kegiatan yang rutin kita lakukan setiap hari, ,jadi otomatis kita akan setiap hari juga memanjatkan doa tersebut sebelum tidur. Baca Juga:...