Langsung ke konten utama

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Dua Pertanyaan Sebelum Tidur, Upaya Membangun Diri

Multaqo - Setidaknya ada dua pertanyaan wajib sebelum kita tertidur pulas. Pertama, kelemahan kita yang seperti apa yang sudah dikalahkan hari ini? Kedua, kebaikan apa yang sudah dikerjakan hari ini?

Dua pertanyaan di atas adalah sebentuk latihan kita agar selalu mengingat dan lebih dalam lagi mengenal diri kita. Mengingat bahwa kita memiliki kelemahan, dan mengenali potensi kita untuk kebaikan.

Pada dasarnya Hassibu qabla an tuhasabu,menjadi titik balik dari dua pertanyaan di atas. Introspeksi diri adalah poin utama pembahasan kali ini. Di mana setiap dari kita perlu melatih diri untuk selalu instrospeksi diri. 

Multaqo.com


Bermuhasabah, menarik ego, dan memendam diri kita. Hal ini menjadi sangat penting dalam membangun diri menjadi lebih baik. 

Sebagian orang mungkin akan mengambil sikap introspeksi diri ketika sedang menghadapi problen sosial yang berat. Tetapi dua pertanyaan sebelum tidur di atas, setidaknya menjadi jagan-jagan agar kita lebih siap menghadapi dan menjalani proses kehidupan. 

Sebuah pernyataan mendasar dari Kyai Usman Mojosari bahwa, “Menjaga diri itu penting, dan yang lebih penting lagi adalah mengoreksi diri sendiri.”

Karena tidak jarang di antara kita sering luput dan lupa, sehingga merasa paling benar sendiri, paling bisa sendiri, paling kaya sendiri, bahkan merasa paling susah sendiri. 

Mengapa tidak kita kontrol saja ego itu dengan bermuhasabah? Yang mana akan memberikan terapi terhadap diri kita agar lebih hati-hati, sehingga kehati-hatian itu berujung pada kebaikan bagi sesama. 

Oleh sebab itu, dua pertanyaan sebelum tidur di atas, yang juga pernah dibahas dalam kajian di Masjid Jendral Sudirman oleh Kyai Fachruddin Faiz, agaknya menjadi satu dimensi pengembangan personal untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, baik secara horizontal maupun vertikal.[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

5 Doa Minta Jodoh Yang Terbaik Sesuai Sunnah

Doa Minta Jodoh.  Doa merupakan salah satu bentuk ketidak mampuan seorang hamba untuk melakukan sebuah perkara, tanpa adanya kuasa dan bantuan dari Allah Swt. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk  berdoa meminta jodoh  agar diberikan jodoh oleh Allah. Ada beberapa doa meminta jodoh yang ada dalam al-Qur’an al-Karim, diantaranya adalah surah al-Furqan ayat 74  : Artinya : Waha Tuhan kami,anugerahkanlah pada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati. Juga dalam surah al-Qashas ayat 24 : رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa Minta Jodoh Sebelum Tidur merupakan salah satu cara agar kita selalu istiqomah  dalam memanjatkan doa kepada Allah. Karena tidur merupakan salh satu kegiatan yang rutin kita lakukan setiap hari, ,jadi otomatis kita akan setiap hari juga memanjatkan doa tersebut sebelum tidur. Baca Juga:...