Seni Berkeluarga, Relasi Kausalitas Tanpa Batas


Iswaya.my.id - Ada masa ketika keluarga tidak punya pilihan selain menjadi peluang bertahan hidup. Bukan benteng yang puitis seperti dalam cerita-cerita, tetapi benteng yang benar-benar menentukan: hidup atau tidak. 

Di titik paling awal itu, keluarga adalah cara manusia memastikan dirinya tidak hilang dari dunia. Ia bekerja sebagai sistem yang menjaga keteraturan, seperti yang dibayangkan oleh Émile Durkheim, bahwa keluarga adalag sebuah unit kecil yang memproduksi norma, kebiasaan, dan rasa saling terikat.


Kesadarannya sederhana, bahkan nyaris tanpa negosiasi panjang, ia dibayangkan sebuah kebersamaan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Walaupun realitasnya sinahu berkeluarga itu penuh dinamika (keruwetan). Namun itulah seninya.


Manusia tidak hanya bertahan hidup; ia juga memberi makna. Ketika struktur sosial mengeras, bernuansa kerajaan, kelas, dan kepemilikan, keluarga pelan-pelan berubah wajah. Ia menjadi tempat di mana nama dijaga simbolisme eksistensi, garis keturunan dirawat, dan kehormatan dipertaruhkan. 


Seseorang tidak lagi hanya hidup untuk dirinya, melainkan membawa beban yang lebih panjang dari usianya sendiri.


Di sini, apa yang dibaca oleh Karl Marx dan Friedrich Engels terasa lebih nyata, bahwa keluarga tidak pernah benar-benar steril dari kepentingan. Ia bersinggungan dengan harta, warisan, gengsi, bahkan kontrol atas masa depan. 


Cinta tetap ada, tetapi sering berjalan berdampingan dengan sesuatu yang lebih sunyi (kesadaran) dan penuh perhitungan. Maka keluarga, bukan hanya ruang afeksi, tetapi juga ruang penataan.


Dunia kembali bergeser ketika manusia mulai memisahkan tempat bekerja dan tempat pulang. Revolusi industri mengubah ritme hidup, dan tanpa banyak disadari, juga mengubah cara orang memandang keluarga. Rumah menjadi tempat yang berbeda dari dunia luar, lebih tenang, lebih intim, dan diharapkan lebih manusiawi.


Apa yang disebut Talcott Parsons sebagai fungsi stabilisasi emosi begitu konkret, keluarga bukan lagi sekadar struktur, melainkan pelipur. Orang pulang bukan hanya untuk makan dan tidur, tetapi untuk memulihkan diri dari dunia yang terlalu keras. Dan apa yang disebut cinta mulai diberi tempat yang lebih layak.


Namun, yang namanya sinahu, pasti ada celah jebakan-jebakan egoisme dalam diri manusia sendiri. Sigmund Freud mengingatkan bahwa relasi dalam keluarga tidak pernah berhenti di permukaan; ia menetap, membentuk, bahkan kadang membayangi, proses menumbuh kata para salik senja dengan kopi dan sebat samsu yang nyempil di antara jemarinya. 


John Bowlby memperjelas bahwa keterikatan awal antara anak dan orang tua menjadi pola yang diam-diam diulang dalam hubungan-hubungan berikutnya. Warisan yang bukan harta benda itu juga mengalir nyatanya. 


Sehingga, keluarga tidak lagi bisa dipahami hanya dari apa yang tampak. Ia menyimpan lapisan yang lebih dalam, kadang tidak disadari oleh mereka, kita dan manusia.


Masuk ke masa modern, manusia mulai merasa bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri, lebih individual. Pendidikan, mobilitas sosial, dan perubahan peran membuka kemungkinan baru, seseorang bisa memilih jalan yang berbeda dari keluarganya. Di sini, keluarga tidak lagi sepenuhnya menentukan, tetapi diharapkan mendukung.


Anthony Giddens menyebut relasi modern sebagai hubungan yang bertahan sejauh ia bermakna secara emosional. Dan ini menjadi  konsekuensi dari dunia yang makin individual, dalam arti penuh kebebasan, tetapi juga kehilangan kepastian.


Keluarga tidak lagi berdiri di atas keharusan, melainkan di atas kesediaan yang terus diperbarui.


Bagi kita dengan adat ketimuran, lampah sinahu seperti yang dielaborasikan oleh Mbah Nun juga menarik untuk melihat makna keluarga, interpretasinya adalah keluarga bukan sekadar struktur sosial atau kontrak emosional. Baginya, keluarga adalah ruang belajar memahami hidup, tempat di mana manusia berlatih menjadi manusia.


Dalam kacamata Mbah Nun,  relasi dalam keluarga tidak bisa direduksi hanya menjadi hak dan kewajiban, apalagi sekadar peran. Ada dimensi yang lebih sunyi, lebih dalam tentang kesediaan untuk memahami sebelum menilai, dan kesabaran untuk merawat sebelum menuntut.


Dalam sudut pandang ini, konflik dalam keluarga bukan semata kegagalan, tetapi bagian dari proses memahami satu sama lain yang tidak pernah selesai. Ego tidak dihapus, tetapi diajak duduk dan dikenali, ditertawakan, kadang juga dipertanyakan.


Apa yang oleh Murray Bowen dijelaskan sebagai sistem yang saling terhubung, dalam pendekatan Emha Ainun Najib atau Mbah Nun terasa lebih membumi, bahwa setiap orang membawa dunianya sendiri ke dalam keluarga, dan tugas bersama bukan menyeragamkan, melainkan menemukan cara agar perbedaan itu tidak saling melukai.


Di sinilah keluarga hari ini menjadi ruang yang sangat padat. Dalam satu pertemuan sederhana, sebenarnya hadir banyak zaman sekaligus, dorongan lama untuk taat tanpa syarat, ingatan tentang nama baik yang harus dijaga, harapan akan kehangatan yang tulus, jejak-jejak psikologis yang belum sepenuhnya selesai, dan keinginan untuk tetap menjadi diri sendiri.


Tidak semuanya saling cocok. Bahkan sering kali saling berbenturan tanpa benar-benar dipahami.


Malah mungkin, yang membuat keluarga terasa melelahkan hari ini bukan karena ia kehilangan makna, tetapi karena ia memuat terlalu banyak makna sekaligus.


Dan di tengah itu, pendekatan seperti yang disiratkan Mbah Nun menjadi semacam pengingat yang sederhana namun jarang dilakukan, bahwa keluarga bukan proyek untuk disempurnakan, melainkan ruang untuk terus dipelajari. 


Bukan juga tempat di mana semua harus benar, tetapi tempat di mana manusia boleh tidak selesai dan tetap diterima sebagai proses.


Jika dulu keluarga adalah benteng, dan kemudian menjadi rumah, mungkin hari ini ia lebih menyerupai percakapan yang tidak pernah benar-benar usai.


Percakapan tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan bagaimana dengan segala perbedaan yang tidak bisa dihapus kita masih menemukan alasan untuk duduk bersama.[]

Komentar