Iswaya.my.id - Mula-mula kita perlu mendudukkan dan menyamakan persepsi tentang kebaikan. karena ada yang berbuat baik tanpa merasa perlu memberi tahu siapa-siapa, pun ada juga yang ditampakkan dengan berbagai motif yang mendasarinya. Artinya, kebaikan adalah nilai yang perlu dilakukan dan diterima oleh siapapun.
Satu contoh kebaikan misalnya adalah saat kita datang ke rumah tetangga yang sedang berduka, duduk sebentar di ruang tamu yang masih dipenuhi suara orang mengaji, membantu mengangkat kursi, menuangkan air untuk tamu, lalu pulang ketika pekerjaan kecilnya selesai.
Tidak ada foto. Tidak ada unggahan. Tidak ada keterangan panjang tentang betapa pedulinya ia kepada orang lain.Kebaikan selesai ketika kewajiban batin selesai.
Barangkali kita sedang kehilangan sesuatu yang sederhana dari cara hidup semacam itu. Bukan kebaikannya. Kita masih memilikinya. Bahkan mungkin dalam jumlah yang lebih banyak.
![]() |
| Battista Mondin |
Kita masih melihat orang bersedekah, membantu korban bencana, menggalang dana, berbagi makanan, mengunjungi orang sakit, menghadiri pengajian, menolong tetangga, dan berbicara tentang kemanusiaan.
Agaknya yang perlahan berubah adalah hubungan kita dengan kebaikan itu sendiri (apik, becik, bener, pener, pantes). Kita semakin terbiasa hidup di hadapan tatapan orang lain.
Apa yang kita kerjakan mudah berubah menjadi sesuatu yang perlu diperlihatkan. Perbuatan baik membutuhkan dokumentasi. Pendapat membutuhkan panggung. Kesedihan membutuhkan penonton. Keberagamaan pun kadang membutuhkan tanda-tanda yang dapat dikenali orang lain.
Tidak selalu demikian, tentu saja. Tetapi kecenderungan itu terasa semakin kuat. Saya sering membayangkan seseorang yang baru selesai melakukan kebaikan. Ia mengambil telepon genggam, memandang layar beberapa detik, lalu berhenti. Ia tidak jadi mengunggahnya.
Mungkin justru pada saat itulah kita bisa mengetahui sesuatu yang penting tentang dirinya. Sebab ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada tanda suka, tidak ada komentar, tidak ada pujian, tidak ada kemungkinan membangun citra diri, lalu apa yang membuat seseorang tetap memilih untuk berbuat baik?
Pertanyaan ini adalah tentang kebudayaan. Battista Mondin, dalam pembahasannya mengenai Value, Culture, Religion (1983) mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar kumpulan kebiasaan, bahasa, teknologi, seni, atau adat istiadat.
Menurutnya, budaya adalah bentuk spiritual sebuah masyarakat, ikatan batin yang menyatukan orang-orang di dalamnya. Karena itu, nilai bukan hiasan tambahan bagi kebudayaan. Gagasan ini senafas dengan pemahanan budi dan daya, bahwa ada proses olah pikir, olah rasa, cipta dan karsa. Sehingga akumulasi semua itu disebut budaya.
Nilai justru menjadi salah satu unsur yang membuat sebuah masyarakat memiliki arah, ukuran, kriteria, dan cita-cita bersama.
Dengan kata lain, kita dapat melihat sebuah masyarakat bukan hanya dari apa yang mereka bangun, tetapi juga dari apa yang mereka anggap berharga.
Dari sana persoalannya menjadi lebih serius. Sebab kita hidup dalam keadaan ketika hampir segala sesuatu dapat diberi nilai melalui angka. Sebuah tulisan dinilai dari jumlah pembacanya. Sebuah video dari jumlah penontonnya. Seorang tokoh dari jumlah pengikutnya. Sebuah gagasan dari seberapa cepat ia menjadi percakapan. Bahkan kemarahan pun dapat menjadi modal apabila cukup banyak orang yang menontonnya.
Pelan-pelan, ukuran yang sebenarnya bersifat instrumental mulai mengambil tempat nilai yang seharusnya lebih mendasar. Mondin membedakan nilai instrumental dan nilai absolut.
Makanan, pekerjaan, pendidikan, olahraga dan berbagai hal lain dapat menjadi sarana untuk mencapai sesuatu.
Tetapi manusia, kebenaran, kebaikan, cinta, keadilan, dan Tuhan tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai alat menuju tujuan lain. Mondin menyebut nilai-nilai semacam ini sebagai nilai yang harus dicari sebagai tujuan, bukan semata-mata sarana.
Di sinilah saya kira persoalan zaman kita menjadi menarik. Kita tidak kekurangan nilai. Kita justru terlalu banyak berbicara tentang nilai. Kita berbicara tentang kejujuran, keadilan, toleransi, persatuan, kemanusiaan, kesalehan, cinta tanah air, bahkan perdamaian.
Tetapi berbicara tentang nilai tidak sama dengan hidup berdasarkan nilai. Sebab nilai baru sungguh menjadi nilai ketika ia mampu mengarahkan tindakan kita, termasuk ketika tindakan itu tidak menghasilkan keuntungan apa pun.
Seperti, bagaimana sikap kita saat ndilalahe menghadapi jujur ketika kejujuran membuat kita kehilangan teman. Adil ketika keberpihakan justru lebih menguntungkan. Diam ketika kita bisa memperoleh perhatian dengan ikut mempermalukan seseorang. Mengakui bahwa kita keliru ketika algoritma justru lebih menyukai orang yang tidak pernah mengaku salah. Menolong seseorang tanpa perlu menjadikan pertolongan itu sebagai bagian dari identitas publik.
Mungkin di situlah nilai perlu diperbincangkan dan direnungkan, bukan ketika ia mudah dijalankan, tetapi ketika ia berhadapan dengan kepentingan kita sendiri. Dalam hal ini, kebudayaan tidak bisa hanya dinilai dari kecanggihan teknologinya. Sebuah masyarakat bisa memiliki teknologi yang sangat maju, tetapi tetap mengalami kemunduran dalam cara memperlakukan manusia.
Kita bisa mempunyai kecerdasan buatan yang mampu menulis, membuat gambar, menyusun suara, bahkan menghasilkan wajah dan peristiwa yang tidak pernah terjadi. Tetapi semakin canggih kemampuan kita membuat sesuatu tampak nyata, semakin penting pertanyaan lama tentang kebenaran.
Lantas, siapa yang masih peduli pada kebenaran ketika kebohongan lebih menarik? Di Indonesia, media sosial telah menjadi bagian penting dari cara masyarakat memperoleh informasi.
Digital News Report 2026 mencatat bahwa 64 persen responden Indonesia memperoleh berita melalui WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok; WhatsApp sendiri mencapai 56 persen sebagai sumber berita. Pada saat yang sama, penggunaan AI dan video podcast terus menguat dalam ekosistem media.
Persoalannya bukan bahwa teknologi itu buruk. Teknologi hanyalah sarana. Tetapi justru karena ia adalah sarana, sebagaimana dikatakan Mondin, tidak berdiri sebagai kumpulan benda dan produk yang tercerai-berai. Di belakang politik, pendidikan, agama, seni, sastra, teknologi, dan berbagai bentuk kehidupan sosial terdapat nilai fundamental yang memberi arah kepada semuanya.
Anggota masyarakat bukan hanya mewarisi bahasa atau kebiasaan, mereka juga diwarisi ukuran tentang apa yang dianggap baik, benar, indah, adil, dan layak diperjuangkan. Lantas dengan beragam teknologi yang ada, manusia macam apa yang sedang kita bentuk melalui teknologi ini
Sebab teknologi yang sama dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan atau menyebarkan kebohongan. Untuk mempertemukan manusia atau mempermalukan manusia. Untuk membantu orang yang kesulitan atau mengeksploitasi penderitaan orang lain. Untuk membuka ruang percakapan atau memperkeras kebencian.
Sarana tidak pernah sepenuhnya menentukan tujuan. Manusialah yang menentukan untuk apa ia digunakan. Karena itu, persoalan kita hari ini barangkali bukan terutama krisis teknologi. Ia adalah krisis penilaian.
Kita semakin mudah mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi belum tentu semakin mampu membedakan mana yang benar. Kita semakin mudah berbicara kepada banyak orang, tetapi belum tentu semakin pandai mendengarkan. Kita semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat. Kita semakin bebas menampilkan diri, tetapi belum tentu semakin mengenal diri sendiri.
Di sinilah gagasan Mondin tentang adanya nilai-nilai yang melampaui kebudayaan menjadi penting. Ia mengakui adanya perbedaan besar antara satu budaya dan budaya lainnya. Setiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam memahami kehormatan, keindahan, keluarga, kematian, kebebasan, bahkan kehidupan.
Namun perbedaan itu, menurutnya, tidak berarti bahwa semua nilai sepenuhnya relatif. Ia melihat adanya sejumlah dasar bersama yang memungkinkan manusia dari kebudayaan berbeda tetap dapat mengenali satu sama lain sebagai manusia.[]
