Langsung ke konten utama

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Menghayati Segenap Ketenangan Jiwa

Ketika ketenangan itu sudah terkunci di dalam diri maka yang muncul adalah aktualisasi nilai dari ketenangan itu. Apa bentuknya? Bentuknya adalah kebajikan. Ketika menanam kebaikan maka yang tumbuh adalah kebaikan.

Proses menentukan apa yang akan ditanam di taman kehidupan ini adalah proses mencari ketenangan, jika di dalam Surat Ar Rad ayat 28 dikatakan bahwa dengan mengingat Tuhan kita akan menjadi tenang hatinya.

Maka wajar jika dengan ketenangan itu nilai yang muncul dan keluar adalah kebahagiaan, dan out-putnya adalah kebaikan kepada siapapun.

Sebagai manusia yang beriman, kita tentu akan selalu berbuat baik kepada siapapun. Hal ini bukan karena mengharap imbalan, tetapi energi dari keimanan itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang melakukan kebaikan kepada siapapun.

Ibarat menanam padi yang tumbuh tidak hanya padi, tetapi rumput secara alami akan membersamai. Maka begitu juga dengan kebaikan, ia akan diiringi oleh berbagai kondisi yang bisa membatalkan kebaikan itu.

Tetapi karena landasan iman yang kuat, maka kebaikan itu akan mengalir begitu saja, tanpa ada rasa untuk menyerah dalam melakukan kebaikan.

Karena di dalam Surat Ar Rad ayat 29 dikatakan bahwa;

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰبٍ

Bahwa orang yang beriman dan melakukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan tempat kembali yang baik.

Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan telah memberikan satu kondisi semangat kepada manusia agar ia melakukan kebaikan kepada siapapun dengan iringan keimanan yang kuat kepada Tuhan.

Dengan begitu ketika seseorang mengingat Tuhannya, maka  energi keimanan yang berupa kebaikan kepada siapapun akan terpancar darinya.

Itulah maksud dari surat Ar Rad ayat 29, yang mana kontekstualisasinya adalah ketika ada seseorang yang bersikap atau memiliki peringai yang tidak baik, maka hal yang perlu kita ingat adalah kebesaran Tuhan menciptakan orang seperti itu, sehingga bukan menghakimi tetapi tetap memandang manusia lain sebagai ciptaan Tuhan tanpa merendahkan atau mengkultuskan. 

Setiap manusia tentu memiliki tujuan dan misi di dalam hidupnya. Dari yang menjadi buruh, tukang sapu, tukang becak, pemiliki toko klontong, guru, politisi, dan lain sebagainya. Ini hal yang wajar, karena manusia lahir dengan ragam pemikiran dan ide yang luar biasa.

Sumber: Pixabay.com

Ide dan pemikiran inilah yang membuatnya lebih unggul dari mahluk-mahluk yang lain. Bahkan saking sengit dan irinya setan, sampai-sampai berusaha mengelabuhi manusia dan membuatnya menjadi sangat rendah.

Ada satu pesan ibarah yang mengatakn bahwa jika manusia itu baik, maka kebaikannya akan melebihi malaikat, tetapi sebaliknya jika manusia itu berbuat keburukan maka keburukannya akan melebihi keburukan setan.

Karenanya, ide dan pikiran manusia itulah yang menjadikannya memiliki tujuan dan visi dalam hidupnya. Tetapi perlu diingat, Allah menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Bahkan perihal perubahan nasib saja, ia tidak akan dirubah nasibnya oleh Tuhan sebelum ia berusaha mengubahnya sendiri.

Dari sini dapat kita lihat bahwa perjalanan hidup manusia akan selalu pada jalurnya, bahkan jalur itu masing-masing memiliki ciri dan karakteristiknya.

Tidak jarang sama sekali tak bertemu, tetapi kadang bersamaan. Oleh sebab itu tidak bisa juga memaksakan diri untuk berjalan di area yang bukan jalurnya, karena bisa bertabrakan dan kecelakaan.

Hal ini sejalan dengan surat Yasin ayat 40 yang mengatakan bahwa;

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Tidaklah mungkin bagi matahari akan bertemu dengan rembulan, seperti halnya tidak akan mungkin malam mendahului siangnya, karena masing-masing beredar pada porosnya.

Secara kontekstual, tujuan manusia terkadang sama tetapi jalan untuk mencapainya itu berbeda, sama halnya dengan GPS yang menunjukan banyak rute tercepat, tergantung kita memilih yang mana dan sesuai dengan kendaraan atau daya dukung perjalanan kita.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

5 Doa Minta Jodoh Yang Terbaik Sesuai Sunnah

Doa Minta Jodoh.  Doa merupakan salah satu bentuk ketidak mampuan seorang hamba untuk melakukan sebuah perkara, tanpa adanya kuasa dan bantuan dari Allah Swt. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk  berdoa meminta jodoh  agar diberikan jodoh oleh Allah. Ada beberapa doa meminta jodoh yang ada dalam al-Qur’an al-Karim, diantaranya adalah surah al-Furqan ayat 74  : Artinya : Waha Tuhan kami,anugerahkanlah pada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati. Juga dalam surah al-Qashas ayat 24 : رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa Minta Jodoh Sebelum Tidur merupakan salah satu cara agar kita selalu istiqomah  dalam memanjatkan doa kepada Allah. Karena tidur merupakan salh satu kegiatan yang rutin kita lakukan setiap hari, ,jadi otomatis kita akan setiap hari juga memanjatkan doa tersebut sebelum tidur. Baca Juga:...