Iswaya.my.id - Untuk sampai pada kedalaman, maka kenali dulu permukaannya. Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan. Bagitulah para bijak mendayukan falsafah dalam kehidupan. Karena sejatinya memang kehidupan ini amatlah sendiri. Kalaupun riuh bersama teman atau keluarga, nyatanya ada kesibukan dalam batin yang - hanya dirinya sendiri yang tahu. Kebisingan itu terkadang cenderung sangat sepi sejatinya, sedangkan kesunyian itu begitu riuh rasanya.
Melihat orang gemar memancing, mengayuh sepeda, lari, jalan kaki di pagi hari, makan-makan, ngegame, bahkan sampai pada kegemberiaan-kegembiraan yang lain, menjadikan kita belajar bahwa ada bahasa kebisingan yang sedang tidak timbul di permukaan keramaian pada umumnya.
Secara subjektif, orang lain akan melihat bahwa kegiatan memancing itu membuang-buang waktu, tapi bagi para mancing mania, itulah jalan berdamai dengan kebisingan dalam hatinya. Landasannya adalah merenung dan menarik diri dari kemrungsung. Kemrungsung atas berbagai persoalan keluarga, pekerjaan bahkan sosial sekalipun. Belum lagi bidang-bidang keagamaan.
![]() |
Foto Embung Bandjarsari Banjarejo Pakis |
Setiap personal menemukan cara untuk mengatasi kebisingan hatinya. Pergolakan dalam batinnya, yang tidak semua orang ngerti. Kalaupun tahu ya hanya sepintas lalu, kemudian mulai kembali mengurusi kebisingan dalam hati masing-masing. Yang perlu diselesaikan bukan apa yang ada di luar, tetapi apa yang ada di dalam.
Yang paling dekat dengan diri bukan diri yang lain, tetapi hati dan nurani, akal dan pikiran. Karena itulah yang nantinya membangun pola pikir dan pola sikap. Akhirnya, untuk siapa sebenarnya berbagai perlakuan, atau untuk apa hal-hal yang kerap dilakukan bahkan digemari itu? Kalau memang untuk orang lain, mengapa terbawa dalam kebisingan hati dan akalnya, kalau untuk kepentingan orang banyak, mengapa kerap tersedu dan capek sendiri?
Artinya, tujuan untuk apa dan siapanya kerap ambigu. Kebaikan untuk siapa dan untuk apanya kerap terkikis oleh berbagai kecele-kecele yang menipu. Memang hikmahnya adalah paling tidak kita belajar, dan belajar itu wajib hukumnya. Masalahnya adalah kalau selalu terperosok pada ruang yang bernama "seakan-akan" maka tidak benar-benar sepi hatinya, tenang hatinya, melainkan begitu bising dan ramai benaknya.
Kesejatian yang menajdi objek perjalanan agaknya hanya persepsi-persepsi dari apa yang dibaca, apa yang dirasa dan apa yang dilihatnya. Bukan benar-benar diperas dan dijumut dari kedalaman rasa dan perenungan. Alih-alih menjadi diri yang tangguh, namun masih terjerembab pada rasa marah, rasa kesal, rasan-rasan, bahkan kemelekatan ke-aku-an.
Rupanya, gang sepi itu memang bernama keramaian. Gang sepi itu bernama kemrungsung kebenaran subjektif, justifikasi-justifikasi. Lalu, bagaimana dengan karya yang dihasilkan? apa semata menjadi bentuk eksistensi atau keberpihakan? olahannya terletak pada kebisingan batin. Untuk apa dan siapa? bagaimana dan mengapa?
Gang sepi itu bernama keramaian.[]
Komentar
Posting Komentar