Langsung ke konten utama

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Gede Rasa? Santai Saja, Karena itu Sebuah Kewajaran

  


Multaqo – Saya kira masa remaja adalah masa di mana kita mulai sedikit menonjolkan rasa ketertarikan kepada lawan jenis kita. Dengan penampilan yang ikut-ikutan seperti di TV atau koran-koran mingguan, mengirim surat cinta, bahkan diam-diam memberi hadiah, agar lawan jenis kita menaruh rasa. 

Apakah itu kekonyolan? Kok rasanya bukan ya, itu adalah kewajaran. Walaupun, saking dahaganya, ketika mereka melempar senyum, kita percaya diri bahwa mereka punya rasa kepada kita. 

Artinya, kepercayaan diri itu menjadi sebuah pikiran positif di satu sisi, dan menjadi bumerang di sisi yang lain. Di mana ketika pikiran positif itu akhirnya ternodai oleh rasa yang tertolak misalnya. 

Tidak masalah, karena remaja adalah masa eksplorasi diri dan mulai mempelajari situasi sosial di dalam dirinya. Akhirnya muncul istilah pubertas, baligh kalau dalam konteks keislaman. Di mana indikator-indikator biologisnya mulai bekerja aktif.

Dan kalau mau kita sadari, ternyata imbas gede rasa, percaya diri, GR, itu berimbas pada kehidupan selanjutnya, di masa-masa dewasa. Mengapa? Paling tidak mengajari kita untuk Isa rumangsa, Dudu rumangsa Isa. Bisa peka terhadap diri kita, bukan merasa bisa dan mampu. 

Sehingga ketika bekerja dalam bidang apapun pelajaran GR di masa remaja itu, kok akhirnya menjadi kehati-hatian bagi kita. Dari sini, sisi positif itulah yang kemudian muncul dari masa remaja yang tidak menutup diri, tidak dibatasi eksplorasinya, walaupun kadang yang agak sembrono juga. 

Saya meyakini bahwa apa yang di sampaikan Tuhan dalam surat an-Nur ayat 35 adalah satu keniscayaan di samping spritualitas dan dzauqiyah keimanan, juga keniscayaan sosial, termasuk antropologisnya manusia. 

 ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ 

Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun 'alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in 'alīm

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ia membimbing kita, karena memang Manusia sebagai hambaNya telah dikehandaki diciptakan. Artinya masa remaja, kekonyolan dan lain halnya adalah salah satu bentuk perumpamaan yang diturunkan Tuhan, lalu kesadaran yang muncul dari dampak GR itu adalah cahaya dariNya. Cahaya di atas segala Cahaya. Kesadaran dan bisa jadi sensitivitas.

Nah, pendek kata tidak ada sebuah kekonyolan tanpa adanya sebuah kewajaran dan pelajaran-pelajaran setelahnya. Dan intinya tidak mudah menyalahkan kondisi apapun. Yang bos tidak gampang menyalahkan anak buahnya, yang guru tidak gampang menyalahkan muridnya, yang pejabat tidak gampang lalai dan menyalahi konstitusinya, yang petani tidak gampang menyalahkan pabrik atau bakul dan pemborong hasil taninya, atau tikus atau hama dan lain sebagainya. 

Intinya adalah karena GR yang dialami di masa remaja, harapan dapat memeluk rembulan dan bidadari, yang nyatanya mbelgedes, gak kesampaian, akhirnya menjadi kehati-hatian dan keniscayaan sosial bagi siapapun. 

Di satu sisi gede rasa adalah pola pengajaran alam semesta terhadap pendewasaan diri untuk meluaskan hati dan pikiran, sehingga tidak cekak nalar dan berpikir sempit kemudian gampang menyalahkan keadaan. 

Karena gede rasa adalah kehati-hatian yang tertunda. Semoga kebaikan selalu membersamai kita semua.[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

5 Doa Minta Jodoh Yang Terbaik Sesuai Sunnah

Doa Minta Jodoh.  Doa merupakan salah satu bentuk ketidak mampuan seorang hamba untuk melakukan sebuah perkara, tanpa adanya kuasa dan bantuan dari Allah Swt. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk  berdoa meminta jodoh  agar diberikan jodoh oleh Allah. Ada beberapa doa meminta jodoh yang ada dalam al-Qur’an al-Karim, diantaranya adalah surah al-Furqan ayat 74  : Artinya : Waha Tuhan kami,anugerahkanlah pada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati. Juga dalam surah al-Qashas ayat 24 : رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa Minta Jodoh Sebelum Tidur merupakan salah satu cara agar kita selalu istiqomah  dalam memanjatkan doa kepada Allah. Karena tidur merupakan salh satu kegiatan yang rutin kita lakukan setiap hari, ,jadi otomatis kita akan setiap hari juga memanjatkan doa tersebut sebelum tidur. Baca Juga:...