Langsung ke konten utama

Postingan

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Membaca Historisitas Sosiologi dan Antropologi Pendidikan

Sosiologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang relatif baru, berkembang di awal abad 20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, karena dianggap dapat dipelajari atau merupakan salah satu sub dalam pembahasan sosiologi.  Kata atau istilah “sosiologi” pertama-tama muncul dalam salah satu jilid karya tulis Auguste Comte (1978 – 1857) yaitu di dalam tulisannya yang berjudul “Cours de philosophie Positive.” Oleh Comte, istilah sosiologi tersebut disarankan sebagai nama dari suatu disiplin yang mempelajari “masyarakat” secara ilmiah. Dalam hubungan ini, ia begitu yakin bahwa dunia sosial juga “berjalan mengikuti hukum-hukum tertentu” sebagaimana halnya dunia fisik atau dunia alam. (Faisal dan Yasik, tt:11)  Lebih Lengkapnya silahkan Unduh DI SINI

Membaca Hikmah Puasa: Pendidikan Membangun Sumber Daya Manusia

Sumber: Pinteres Puasa merupakan praktik ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia sebagai bagian dari ibadah Ramadhan. Ramadahan 1445 H ini memberikan pengalaman dan harapan yang luar biasa kepada segenap manusia, pasalnya setelah beberapa waktu lalu dengan pemilu serentaknya, disusul dengan berbagai isu kenaikan harga pangan, tetapi kita tetap semangat dengan harapan besar akan maju dan berkembangnya Indonesia. Momentum puasa ini menjadikan kita semua untuk selalu bermuwajjahah, berdzikir dan menata diri dalam menghadapi apapun yang ada. Ini adalah bagian dari Pendidikan untuk membangun diri, membangun sumber daya manusia dalam menghadapi segala macam persoalan yang kita lalui.   Karena Pendidikan yang kita terima dalam momentum puasa di bulan Ramadhan ini adalah bagian dari penguatan aspek spirtualitas keagamaan kita. Di samping aspek spiritualitas, puasa juga memberikan dampak psikologis kepada kita semua dalam menahan diri, bersikap lebih sabar dalam menghadapi a...

Menyikapi Epidemik Bullying, Menguak Akar, Dampak dan Solusi

Ilustrasi Bullying, Sumber: Pinterest Oleh : Marita Restyani* Pembuliyyan, atau yang lebih dikenal dengan istilah bullying, merupakan fenomena sosial yang telah menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir.  Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah secara fisik, emosional, atau sosial Pembuliyyan atau bullying merupakan masalah serius yang dapat berdampak negatif pada korban tak hanya sekadar tindakan fisik atau verbal yang merugikan, pembuliyyan telah menjadi sebuah epidemi yang merusak kesehatan mental, emosional, dan bahkan fisik individu yang menjadi korban. Dalam Seminggu Terakhir jagat raya media kembali dihebohkan dengan kasus perundungan/ pembuliyyan disebuah Pondok Pesantren di Kediri, Jawa Timur. Korban merupakan Santriwan  (14 tahun) asal banyuwangi yang tiba –tiba dipulangkan dalam keadaan meninggal dengan keadaan tubuh penuh luka –luka dan lebam-lebam ...

Kiat-kiat Menghadapi Degradasi Moral Generasi Millenial

Gilang Ramadhan* Beberapa bulan terakhir bahkan beberapa tahun terakhir, banyak sekali berita-berita tentang penganiayaan terhadap pendidik atau guru yang dilakukan oleh wali murid. Banyak yang bertanya-tanya tentang kejadian tersebut, siapakah yang salah jika kejadian ini sudah terjadi? Banyak yang menyalahkan guru dan sekolahnya, banyak pula yang menyalahkan orangtuanya. Salah satu kasus terhangat yang bisa menjadi pelajaran kita adalah, di salah satu sekolah yang berada di daerah sumbawa barat bahwa seorang guru dituntut 50 juta oleh pengadilan karena orang tua tidak terima anaknya diingatkan untuk melaksanakan shalat. Hal ini justru menjadi suatu yang menurut kacamata orang awam adalah sebuah keanehan. Bagaimana tidak, bahwa setiap manusia dicitpakan oleh Allah, tidak lain tidak bukan untuk menyembah-Nya, seperti yang di firmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala :  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذّاريات : 56)   Aku tidak menciptakan jin da...

Refleksi Sumpah Pemuda: Pemuda Hari Ini (impian) Membangun Masa Depan

Oleh : Marita Restyani Sumpah Pemuda adalah keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”.  Sumpah Pemuda merupakan sumbangsih yang konkret  Pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satu makna dari Sumpah Pemuda adalah "Pemuda hari ini, pemimpin masa depan”. Pemerintah mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap para pemuda, karena di pundak merekalah terletak masa depan dan pemimpin sebuah bangsa Pemuda memiliki peran yang sangat penting untuk membangun, mempertahankan, dan memajukan Bangsa Indonesia.  Pemuda harus mampu berdikari, berpijak dengan kakinya sendiri untuk meraih prestasi dan impiannya demi mewujudkan cita-citanya Mengapa demikian, karena kitalah jiwa-jiwa yang diharapkan, kitalah jiwa-jiwa yang dipundaknya ada beban masadepan. Kita adalah jiwa-jiwa yang membangun peradaban.  Dalam...

Hari Santri; Nyantri Setiap Hari

Oleh: Gus Faiz Wildan M.Si* Harinya santri, tidak hanya satu hari. Santri tetep ngaji sampai mati. Kemarin, banyak kalangan memperingati hari santri. Mulai dari penyelenggaraan upacara, aneka macam perlombaan, pengangkatan panglima santri, duta santri, dan kegiatan semarak lainnya. Sudah semestinya tidak berhenti di acara seremonial saja, diperdalam kembali untuk ngaji. Seneng ngaji, ngaji yang sebenar-benar ngaji, nambah ilmu. Nambah kemesraan bersama Alloh dan Kanjeng Nabi, melalui guru ngaji yang jelas secara sanadnya. Ilmu itu cahaya. Namun banyak yang berilmu, tapi tidak dapat cahaya. Sebab lupa akan sambungan, sambungan kepada orang-orangnya Alloh, yang tersambung kepada Kanjeng Nabi. Menjadi siapapun kita, sesibuk apapun kita, sealim apapun kita, jangan lupa dan jangan berhenti ngaji. Temukan guru pembimbing yang dapat membawamu semakin mencintai dan mengenal  Alloh juga Kanjeng Nabi. Entah kelak kita akan 'alim atau tidak, namun tetaplah istiqomah ngaji. Ngaji, mutlak adany...

Meneropong Pergantian Tahun Politik 2024

Oleh: Marita Restiyani* Pergantian tahun politik dapat menjadi saat yang penting dalam sejarah politik suatu negara dan dapat membawa perubahan signifikan. Hal ini juga sering disertai dengan perdebatan politik, kampanye pemilu, dan partisipasi aktif warga negara dalam proses politik.  Dalam beberapa kasus, pergantian tahun politik dapat menciptakan momentum bagi reformasi politik atau perubahan sosial yang lebih luas Pemilihan umum dan pergantian tahun politik selalu menjadi momen penting dalam kehidupan suatu negara. Pada saat-saat ini, isu-isu politik, kampanye, dan perdebatan menjadi sorotan utama masyarakat. Sayangnya, di tengah antusiasme politik ini, maraknya penyebaran berita palsu atau hoaks telah menjadi masalah serius yang mengancam integritas proses demokrasi. Fenomena Hoaks ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu , bahkan sejak tahun 1600-an. Namun dalam konteksnya di Indonesia , ia baru marak ketika pintu kebebasan berekspresi dibuka lebar pada era reformasi bersamaan...