Langsung ke konten utama

Postingan

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Joinan Kopi dan Rokok Jisamsu, Celoteh Warga NU Kultural

Kalau boleh jujur, menjadi warga NU itu ibarat menjadi sepupu jauh dari keluarga besar yang kadang berkumpul ramai, kadang ribut kecil, tapi ujung-ujungnya tetap makan bareng, ngopi, dan saling pinjam sandal. Sebenarnya, kita hidup dalam tradisi yang begitu cair.   Di satu sisi penuh kesantunan ulama, di sisi lain penuh kegaduhan grup WA yang isinya kadang lebih panas dari sambal geprek dengan berbagai level. Nah, belakangan, konflik kecil-kecil di tubuh PBNU membuat banyak warga NU, khususnya warga kultur mengernyitkan dahi, bukan karena marah, tapi karena kog ya tega-teganya bikin gaduh hanya karena hal remeh-temeh? Seolah-olah NU ini sudah sangat stabil, sangat sepi masalah, sampai-sampai hal kecil pun diperebutkan. Padahal warga NU di kampung masih banyak yang memikirkan hal-hal lebih penting; pupuk sulit, anak kosan nunggak, dan kopiah hilang entah ke mana pas shalat Jumat. Di tengah itu semua, kadang terdengar celetukan-celetukan yang sedikit nyelekit “ Lha iki piye, kiai? ...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...

Integrasi Spiritualitas Jawa-Islam dan Perlawanan Diponegoro

Ilustrasi penangkapan Pangeran Diponegoro pada akhir perang Jawa tahun 1830 yang dilukis oleh Raden Shaleh. Foto: Ist/Net Iswaya.my.id - Pangeran Diponegoro merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah nasional Indonesia, yang keberaniannya dalam memimpin Perang Jawa (1825–1830) melawan kolonialisme Belanda telah mengukir jejak mendalam dalam kesadaran kolektif bangsa. Namun, keistimewaan Diponegoro tidak berhenti pada perannya sebagai tokoh militer. Ia adalah pemimpin spiritual, intelektual, sekaligus simbol moral yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, budaya Jawa, dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam dirinya, terdapat perpaduan antara idealisme religius dan realisme politik yang lahir dari pergulatan spiritual dan sosial yang kompleks. Karya Babad yang ditulis oleh Diponegoro dalam pengasingannya (1831–1833)  merupakan sumber penting untuk memahami kepribadian dan pandangan dunianya. Babad ini tidak hanya mencatat kronologi peristiwa, tetapi juga me...

200 Tahun Perang Diponegoro; Refleksi Sejarah dan Konservasi Spirit

Iswaya.my.id - Tahun ini menjadi momentum peringatan sejarah patriotisme Pangeran Diponegoro dalam perang jawa yang berlangsung pada 1825-1830. Pangeran Diponegoro, sang pahlawan nasional yang namanya terukir abadi dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda menyisakan berbagai warisan yang perlu - bahkan wajib untuk dikaji-reflektifkan. Dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah itu, perlu kiranya kita membaca kembali spirit patriotisme dalam bentuk gelaran Haul Pangeran Diponegoro dan Laskar Diponegoro. Di Kalipare haul ini akan memasuki tahun yang ke-dua kalinya, sebuah perayaan yang tidak hanya berisi doa dan penghormatan, tetapi juga refleksi atas nilai-nilai perjuangan yang diwariskan olehnya. Tanggal 18 Oktober 2025 menjadi momentum reflektif bagi masyarakat Kalipare, Malang, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Di samping peringatan dalam bentuk haul, agaknya membaca patriotisme Pangeran Diponegoro juga perlu diwujudkan dalam bentuk pelestarian aksara jawa. Di mana ...

Jalan Sunyi di Tengah Penuh Sesak

Iswaya.my.id - Kalau kita membaca buku Sufism An Introduction karya Farida Khanam terbitan Goodword (2007), kita akan menemukan cerita panjang tentang bagaimana para Sufi dulu menempuh jalan sunyi. Seperti Hasan al-Basri yang menangis takut pada api neraka, Rabi’ah al-Adawiyah yang berdoa agar cintanya kepada Allah tidak dikotori oleh harapan surga, atau Abdul Qadir al-Jilani yang mengajarkan murid-muridnya untuk tidak bergantung pada kekuatan selain Allah. Semua kisah itu berangkat dari konteks sejarah yang jauh dari kita. Mereka hidup di gurun, di istana, di jalan-jalan kota Baghdad atau Basra. Mereka menghadapi kekuasaan Umayyah, pertikaian politik, dan intrik para ulama istana. Hari ini, kita hidup di dunia yang lain; dunia algoritma, dunia pencitraan, dunia yang penuh suara bising. Tapi justru di situlah tasawuf masih relevan. Tasawuf adalah seni menemukan Allah di dalam hati, apa pun situasi zamannya. Hari ini, tidak banyak orang yang bisa memilih hidup asketis seperti Ibrahim i...

Budaya Kepentingan dan Kepengenan

Iswaya.my.id - Kepentingan, betapapun sederhana kedengarannya, tak pernah hadir dengan wajah tunggal. Ia selalu terdiri dari lapisan-lapisan yang saling bersilang: ada yang mendesak, ada yang hanya mungkin berjalan bila syarat tertentu terpenuhi, dan ada yang terpaksa ditunda karena kondisi yang menghalangi  untuk mewujudkannya.  Nyatanya, tidak sedikit yang kerap gagal membedakan mana yang seharusnya menjadi prioritas dan mana yang baru bisa tumbuh dalam kondisi yang tepat. Dalam kehidupan sosial, kebingungan itu sering melahirkan ketidakadilan. Hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas bersama justru tercecer, digantikan oleh kepentingan sesaat. Sementara kepentingan yang memerlukan kondisi matang dipaksakan berjalan, meski di sekelilingnyalah yang menanggung akibatnya.  Dari situ lahirlah jurang, antara kebutuhan sejati manusia dan agenda sempit kekuasaan. Ambil contoh dunia kebudayaan. Kita sering mendengar semboyan pelestarian, tetapi pelestarian hanya tinggal sloga...