Langsung ke konten utama

Postingan

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

NU di Persimpangan Tradisi dan Hasrat Zaman

Iswaya.my,id - Ada ungkapan luhur yang turut membangun budaya dan gerak sosial kita, bahwa “ yen wis ilang wirange, tinggal rame tanpa wibawa ”. Ketika kewibawaan memudar, yang tersisa hanyalah keramaian. Agaknya ungkapan ini relevan untuk membaca sebagian kegelisahan warga Nahdlatul Ulama (NU) hari ini. Bukan karena NU kehilangan massa, tidak. NU tetap organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jaringan pesantren, kiai, santri, dan jamaah yang mengakar dan menguktul secara organik sampai ke pelosok desa. Tetapi di tengah kebesaran itu, muncul pertanyaan yang semakin sering berkelindan di warung-warung kopi, grup WhatsApp, forum intelektual, bahkan di serambi pesantren, “mengapa kiai hari ini semakin mudah diperdebatkan, bahkan tidak sedikit yang kehilangan daya hormat di mata sebagian jamaahnya?”   Pertanyaan itu sesungguhnya bukan soal sopan santun semata. Ia menyentuh perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan hubungan antara otoritas moral dan kekuasaan sosial. Ini buk...

Seni Berkeluarga, Relasi Kausalitas Tanpa Batas

Iswaya.my.id - Ada masa ketika keluarga tidak punya pilihan selain menjadi peluang bertahan hidup. Bukan benteng yang puitis seperti dalam cerita-cerita, tetapi benteng yang benar-benar menentukan: hidup atau tidak.  Di titik paling awal itu, keluarga adalah cara manusia memastikan dirinya tidak hilang dari dunia. Ia bekerja sebagai sistem yang menjaga keteraturan, seperti yang dibayangkan oleh Émile Durkheim, bahwa keluarga adalag sebuah unit kecil yang memproduksi norma, kebiasaan, dan rasa saling terikat. Kesadarannya sederhana, bahkan nyaris tanpa negosiasi panjang, ia dibayangkan sebuah kebersamaan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Walaupun realitasnya sinahu berkeluarga itu penuh dinamika (keruwetan). Namun itulah seninya. Manusia tidak hanya bertahan hidup; ia juga memberi makna. Ketika struktur sosial mengeras, bernuansa kerajaan, kelas, dan kepemilikan, keluarga pelan-pelan berubah wajah. Ia menjadi tempat di mana nama dijaga simbolisme eksistensi, garis keturunan dirawat, ...

Grayah-Grayah di Era Post-Truth

Iswaya.my.id -   Enak ya hari ini , kita hidup di zaman keterhubungan yang sangat mudah, informasi diterima secepat jari mengetik dan scrol-scrol sosial media. Walaupun  ada secara tidak langsung ada skeptis yang cukup besar antara individu, kelompok, dan komunitas masyarakat sekalipun. Artinya adalah trust , informasi yang faktual, objektif justru semakin sulit untuk benar-benar dipercaya. Ada kegamangan terhadap ragam informasi yang diterima, dalam konteks apapun. Pergulatan dan percakapan, diskusi dan rangkaian seminar, bahkan jagongan sekalipun menjadi ruang yang sangat penuh curiga.  Semua itu terjadi tanpa henti, ruang interaksi terbuka lebar, dan hubungan tampak terus terjalin. Namun, di balik itu semua, ada perubahan yang sering luput dari perhatian; kepercayaan sosial tidak lagi menjadi fondasi, melainkan menjadi sesuatu yang dipertanyakan sejak awal. Sejatinya, kepercayaan itu menjadi pilar penting dalam aspek apapun, utamanya dalam kehidupan. Ia hadir sebel...

Dunia Pencitraan Ladulmun 'Adim

iswaya.my.id - Ada ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita, bahwa manusia semakin ramai berbicara tentang nilai, tetapi semakin sepi dalam mempraktikkannya. Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur dengan manfaat pribadi. Bahkan niat baik pun sering disaring terlebih dahulu oleh pertanyaan sederhana, apa untungnya bagi saya? Dari sinilah pola pikir materialistis tumbuh dengan sangat halus tidak selalu kasar dan tampak serakah, tetapi menyelinap dalam cara kita memaknai agama, pendidikan, relasi sosial, bahkan politik. Materialisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk harta yang berlimpah. Ia sering muncul dalam bentuk yang lebih halus: keinginan untuk selalu berada di zona nyaman, keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai kepentingan diri, serta kecenderungan menilai sesuatu hanya dari manfaat yang langsung terasa. Ketika logika ini menguasai cara berpikir, manusia mulai lupa bahwa hidup sejak awal tidak pernah dibangun sendirian. Ia selalu lahi...

Membaca Polemik Kuota Haji, Dari Analisa sampai Prasangka-Prasangka

Ilustrasi Polemik Kuota Haji Iswaya.my.id -  Setiap kasus yang melibatkan pejabat publik hampir selalu melahirkan dua hal yang saling beriringan; proses hukum dan riuh tafsir. Apalagi ketika pejabat publik itu terafiliasi partai, ormas atau tokoh tertentu. Di samping proses hukum yang kadang saling Tarik ulur, juga riuhnya prasangka yang begitu bebas bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang tumbak cucukan, tukang kompor, ada juga yang menjadi kontrol. Tentu yang pertama berjalan di ruang institusi, dengan ritme dan logikanya sendiri. Kedua hidup di ruang publik, bergerak cepat, emosional, dan sering kali bercampur antara data, opini, dan sikap politik. Kasus yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas berada tepat di persimpangan itu. Kita tidak bisa bermain interpretasi melulu, karena polanya adalah kebijakan publik, terkait pelayanan. Anda beli soto di warung A dengan pelayanan yang acak kadut, walaupun rasanya enak, akan berpikir dua kali untuk datang lagi, berbeda dengan warun...

Joinan Kopi dan Rokok Jisamsu, Celoteh Warga NU Kultural

Kalau boleh jujur, menjadi warga NU itu ibarat menjadi sepupu jauh dari keluarga besar yang kadang berkumpul ramai, kadang ribut kecil, tapi ujung-ujungnya tetap makan bareng, ngopi, dan saling pinjam sandal. Sebenarnya, kita hidup dalam tradisi yang begitu cair.   Di satu sisi penuh kesantunan ulama, di sisi lain penuh kegaduhan grup WA yang isinya kadang lebih panas dari sambal geprek dengan berbagai level. Nah, belakangan, konflik kecil-kecil di tubuh PBNU membuat banyak warga NU, khususnya warga kultur mengernyitkan dahi, bukan karena marah, tapi karena kog ya tega-teganya bikin gaduh hanya karena hal remeh-temeh? Seolah-olah NU ini sudah sangat stabil, sangat sepi masalah, sampai-sampai hal kecil pun diperebutkan. Padahal warga NU di kampung masih banyak yang memikirkan hal-hal lebih penting; pupuk sulit, anak kosan nunggak, dan kopiah hilang entah ke mana pas shalat Jumat. Di tengah itu semua, kadang terdengar celetukan-celetukan yang sedikit nyelekit “ Lha iki piye, kiai? ...

Pesantren, Alam dan Ingatan yang Pelan-pelan Kita Rawat

Di kaki bukit Buduk Asu Singosari, pagi, embun, dan riang kicau burung tidak turun begitu saja. Ia meluncur perlahan, seperti seorang santri yang sedang khusyuk menjalani tirakat dalam jalan sunyinya. Angin menyelinap di antara reranting pohon pinus, kopi arabika dan berbagai pohon yang menjulan menopang langit. Ia membawa aroma pinus yang bercampur dengan kesunyian khas pegunungan; kesunyian yang diam-diam mengajari kita tentang ketenangan dan keteguhan.  Pada 22–23 November 2025 kemarin, di tempat yang seolah menjadi halaman depan hutan, berbagai wajah hadir, duduk bersila sambil mewadahi rintik hujan yang begitu riang menari, menimpa kehangatan yang terjalin di antara para kyai, para gus dan ning, para penggerak lingkungan, perangkat dan pengawas desa, aktivis kampus, hingga komunitas ke komunitas yang berjalan dengan langkah mereka sendiri; komunitas Pancasuman, Mukti Laku, Santri Harian Lepas dengan keplaurannya (meminjam istilah mas Dian si penggerak itu), serta para pemerhat...