Iswaya.my,id - Ada ungkapan luhur yang turut membangun budaya dan gerak sosial kita, bahwa “ yen wis ilang wirange, tinggal rame tanpa wibawa ”. Ketika kewibawaan memudar, yang tersisa hanyalah keramaian. Agaknya ungkapan ini relevan untuk membaca sebagian kegelisahan warga Nahdlatul Ulama (NU) hari ini. Bukan karena NU kehilangan massa, tidak. NU tetap organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jaringan pesantren, kiai, santri, dan jamaah yang mengakar dan menguktul secara organik sampai ke pelosok desa. Tetapi di tengah kebesaran itu, muncul pertanyaan yang semakin sering berkelindan di warung-warung kopi, grup WhatsApp, forum intelektual, bahkan di serambi pesantren, “mengapa kiai hari ini semakin mudah diperdebatkan, bahkan tidak sedikit yang kehilangan daya hormat di mata sebagian jamaahnya?” Pertanyaan itu sesungguhnya bukan soal sopan santun semata. Ia menyentuh perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan hubungan antara otoritas moral dan kekuasaan sosial. Ini buk...