Langsung ke konten utama

Postingan

Disonansi Agama, Kebudayaan dan Moral Sosial

Kiat-kiat Menghadapi Degradasi Moral Generasi Millenial

Gilang Ramadhan* Beberapa bulan terakhir bahkan beberapa tahun terakhir, banyak sekali berita-berita tentang penganiayaan terhadap pendidik atau guru yang dilakukan oleh wali murid. Banyak yang bertanya-tanya tentang kejadian tersebut, siapakah yang salah jika kejadian ini sudah terjadi? Banyak yang menyalahkan guru dan sekolahnya, banyak pula yang menyalahkan orangtuanya. Salah satu kasus terhangat yang bisa menjadi pelajaran kita adalah, di salah satu sekolah yang berada di daerah sumbawa barat bahwa seorang guru dituntut 50 juta oleh pengadilan karena orang tua tidak terima anaknya diingatkan untuk melaksanakan shalat. Hal ini justru menjadi suatu yang menurut kacamata orang awam adalah sebuah keanehan. Bagaimana tidak, bahwa setiap manusia dicitpakan oleh Allah, tidak lain tidak bukan untuk menyembah-Nya, seperti yang di firmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala :  ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†ِ (الذّاريات : 56)   Aku tidak menciptakan jin da...

Refleksi Sumpah Pemuda: Pemuda Hari Ini (impian) Membangun Masa Depan

Oleh : Marita Restyani Sumpah Pemuda adalah keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”.  Sumpah Pemuda merupakan sumbangsih yang konkret  Pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satu makna dari Sumpah Pemuda adalah "Pemuda hari ini, pemimpin masa depan”. Pemerintah mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap para pemuda, karena di pundak merekalah terletak masa depan dan pemimpin sebuah bangsa Pemuda memiliki peran yang sangat penting untuk membangun, mempertahankan, dan memajukan Bangsa Indonesia.  Pemuda harus mampu berdikari, berpijak dengan kakinya sendiri untuk meraih prestasi dan impiannya demi mewujudkan cita-citanya Mengapa demikian, karena kitalah jiwa-jiwa yang diharapkan, kitalah jiwa-jiwa yang dipundaknya ada beban masadepan. Kita adalah jiwa-jiwa yang membangun peradaban.  Dalam...

Hari Santri; Nyantri Setiap Hari

Oleh: Gus Faiz Wildan M.Si* Harinya santri, tidak hanya satu hari. Santri tetep ngaji sampai mati. Kemarin, banyak kalangan memperingati hari santri. Mulai dari penyelenggaraan upacara, aneka macam perlombaan, pengangkatan panglima santri, duta santri, dan kegiatan semarak lainnya. Sudah semestinya tidak berhenti di acara seremonial saja, diperdalam kembali untuk ngaji. Seneng ngaji, ngaji yang sebenar-benar ngaji, nambah ilmu. Nambah kemesraan bersama Alloh dan Kanjeng Nabi, melalui guru ngaji yang jelas secara sanadnya. Ilmu itu cahaya. Namun banyak yang berilmu, tapi tidak dapat cahaya. Sebab lupa akan sambungan, sambungan kepada orang-orangnya Alloh, yang tersambung kepada Kanjeng Nabi. Menjadi siapapun kita, sesibuk apapun kita, sealim apapun kita, jangan lupa dan jangan berhenti ngaji. Temukan guru pembimbing yang dapat membawamu semakin mencintai dan mengenal  Alloh juga Kanjeng Nabi. Entah kelak kita akan 'alim atau tidak, namun tetaplah istiqomah ngaji. Ngaji, mutlak adany...

Meneropong Pergantian Tahun Politik 2024

Oleh: Marita Restiyani* Pergantian tahun politik dapat menjadi saat yang penting dalam sejarah politik suatu negara dan dapat membawa perubahan signifikan. Hal ini juga sering disertai dengan perdebatan politik, kampanye pemilu, dan partisipasi aktif warga negara dalam proses politik.  Dalam beberapa kasus, pergantian tahun politik dapat menciptakan momentum bagi reformasi politik atau perubahan sosial yang lebih luas Pemilihan umum dan pergantian tahun politik selalu menjadi momen penting dalam kehidupan suatu negara. Pada saat-saat ini, isu-isu politik, kampanye, dan perdebatan menjadi sorotan utama masyarakat. Sayangnya, di tengah antusiasme politik ini, maraknya penyebaran berita palsu atau hoaks telah menjadi masalah serius yang mengancam integritas proses demokrasi. Fenomena Hoaks ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu , bahkan sejak tahun 1600-an. Namun dalam konteksnya di Indonesia , ia baru marak ketika pintu kebebasan berekspresi dibuka lebar pada era reformasi bersamaan...

Palu

Oleh: Taufiq Wr Hidayat* Kelemahan telak Reksi Dorna adalah putra kandungnya, Bambang Aswatama. Seorang ahli agama, guru ketuhanan, dan begawan perang, Reksi Dorna sangat menyayangi putranya lebih dari apa pun di jagat raya ini. Seluruh harta, jiwa-raga, dan ilmunya ia persembahkan dan akan ia wariskan pada Bambang Aswatama. Ia berharap Bambang Aswatama kelak meneruskan kekuasaannya sebagai resi agung Ngastinapura. Bagai kebanyakan seorang ahli atau tokoh agama yang cenderung mewariskan perguruan pada anaknya. Dan anak dari seorang tokoh agama selalu dibangga-banggakan meneruskan ketokohan orangtuanya sebagai trah ahli agama. Begitu juga dengan politisi, seorang pemimpin politik cenderung memoles dan mengagung-agungkan putra-putrinya untuk meneruskan atau kelak menggantikan posisi formal yang pernah dijabatnya. Atau setidaknya memegang kekuasaan. Sebagaimana kebanyakan orang tua yang lazim membangga-banggakan anaknya, Reksi Dorna pun sangat mengutamakan dan membangga-banggakan Bambang ...

Njagong Filsafat, Camilan Rempeyek Empirisme dan Kopi Kental Aksiologis

Oleh:  Sam Fajrul* Saya menemukan hal menarik saat nderes prolog dari buku Filsafat Pendidikan Islam karya Prof. Dr. Ahmad Tafsir. Beliau mengungkapkan kebingungannya membedakan antara filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan. Dalam perjalanan pemikirannya, akhirnya beliau menemukan titik terang bahwa perbedaan keduanya terletak pada sisi empiris. Filsafat pendidikan tidak memiliki sisi empiris dikarenakan pembahasan filsafat hanya membutuhkan logis saja. Tepat sekali dengan pemaparan dosen saya, Pak Arif Majid yang mengungkapkan ciri khas filsafat ada tiga yakni : radikal, sistematis dan universal. Hal yang menarik adalah ketika dua pemaparan di atas dikaitkan dengan pemaparan selanjutnya yang juga disampaikan dosen saya, Ibu Nur Rohmah kalau filsafat merupakan induk dari sains. Menariknya adalah, bahwa sains yang merupakan ilmu pengetahuan tentu saja memerlukan sisi empiris dalam proses mempelajarinya. Artinya, induk dari fan ilmu yang membutuhkan sisi empiris adalah fan ilmu yan...

Santri Mengabdi, Membangun Negeri

HSN 2023 STIT IBNU SINA Malang Oleh: Marita Restiyani* Hari Santri adalah momen penting dalam kalender nasional Indonesia yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 22 Oktober. Hari ini menjadi kesempatan untuk menghormati dan mengapresiasi peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, budaya, dan sosial di Indonesia. Pada tahun 2023  ini, Kemenag meluncurkan Logo  Hari santri Nasional,  tema yang diusung adalah "Jihad Santri Jayakan Negeri". Tema ini menunjukkan semangat para santri untuk berjuang dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan negara.  Jihad santri dalam konteks ini bukanlah jihad fisik, melainkan jihad intelektual dan kreatif untuk memajukan negeri. Menurut Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, jihad santri dalam konteks ini adalah jihad intelektual dan kreatif untuk memajukan negeri.  Jihad intelektual ini meliputi upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memperkuat keilmuan Islam. Sedang...